The Word of Emi

Just another WordPress.com weblog

Mei 5, 2009

Filed under: Uncategorized — emimusafaah @ 2:43 am

4766.gif

 

Diary Mei 5, 2009

Filed under: Uncategorized — emimusafaah @ 2:39 am

Tiga hari terhitung sejak tanggal 22 hingga 24 April 2009, siswa kelas XII baik SMA, MA maupun SMK melaksanakan UAN. Sebuah pertarungan terakhir untuk menentukan kelulusan dengan 6 studi/jurusan dan rata2 kelulusan minimal 5,50.

Berbicara soal UAN, sy ingin menceritakan pengalaman ketika sy mengikuti UAN SMP April 2008. Saat itu, sy masih menempuh UAN dengan 3 studi dan syarat kelulusan yang lebih kecil dari tahun 2009.

Ketika itu, sebelum UAN pasti diadakan TO (Try Out), latihan pra-UAN. Jujur saja, soal-soal TO sangatlah mengerikan, amat sangat sulit. Tapi, meski begitu, siswa dipaksa untuk tidak menyontek demi mengukur kemampuan masing-masing. Al-hasil, hancurlah nilai TO tersebut. Sy yang tidak pernah belajar saat TO masih beruntung, nilai pas-pasan dengan standar kelulusan. 4 kali TO dengan nilai siswa hancur, ketakutan akan UAN pun muncul.

Akhirnya, UAN itupun tiba dan sejujurnya, hanya matematika saja yang sy persiapkan sedangkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sy tidak belajar sama sekali. Sy hanya mengandalkan pemahaman materi sy selama 3 tahun. Sedang siswa lain menyiapkan strategi menyontek baik bertanya langsung ataupun lewat Hp.

Apa yang terjadi? Sy bisa tertawa saat UAN. Kenapa? Soal UAN mudah sekali, jauh dari soal TO yang mengerikan. Dari 3 studi, hanya matematika saja yang ternodai karena sy bertanya pada teman, walau hanya 4 soal. Yang lainnya, bersih dari contekan bahkan saat listening sy sempat tertawa karena soalnya lucu. Sy sama sekali tidak ikut terlibat strategi yang dibuat teman-teman (kecuali saat UAS), sy bahkan belum punya Hp saat itu.

Selang sebulan, hasil diumumkan dan sekolah sy lulus 100%. Jumlah nilai ketiga studi adalah 22,60, sama dengan hasil UAN ketika SMP. Sedihnya, nilai sy itu paling rendah di kelas karena teman-teman yang lain memiliki nilai diatas 24.

Yah, hal tersebut wajar dikarenakan sy hanya menyontek di studi matematika dan hanya matematika pula yang dipersiapkan. Namun, meski sama dengan nilai ketika SMP, sy bangga karena itulah kemampuan murni sy menghadapi UAN tanpa belajar (kecuali MTK). Bedanya, ketika UAN SMP, ketiga studi tidak ternodai dengan jawaban contekan.

Nekad memang, karena resikonya adalah tidak lulus. Tapi, sy hanya tidak ingin lulus dengan nilai UAN yang besar tetapi nilai tersebut bertolakbelakang dengan kemampuan asli diri sy. Sebab, jika kuliah, hal tersebut akan sangat terlihat jelas. Buat apa nilai tinggi tapi otak kita kosong?

 

pengalaman UAS Mei 5, 2009

Filed under: Uncategorized — emimusafaah @ 2:32 am

P.U.S.I.N.G!!
doain gue lulus ya :)

didoaiinn koook.. tenang aja. semangat2 :mantap:

saya dulu pas UAN kebagian tugas bawa majalah sama koran buat ditaro di meja pengawas (dengan harapan pengawasnya keasikan baca dan nggak merhatiin kita2 pas lagi nanya2 ke temen :nyengir2: )

eh gataunya pas uan hari terakhir, dapet pengawas dari sma swasta yg disiplin banget. jgnkan baca2 majalah, ngedip aja kayaknya nggak. :ketawa:

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.